Banner

Krisis Melanda Lereng Gunung Lewotobi Pemerintah Belum Bertindak 

By Redaksi Juni 18, 2024

JN NEWS, FLOTIM – Hujan abu vulkanik yang semakin parah telah melanda sejumlah desa di lereng Gunung Lewotobi Laki-Laki, yaitu Desa Boru, Hokeng Jaya, Klatanlo, Dulipali, dan Pululera. Sejak beberapa hari terakhir, aktivitas warga di desa-desa tersebut terganggu secara signifikan. Tidak hanya itu, warga kini mulai mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Atap rumah-rumah warga tertutup oleh lapisan abu tebal, memaksa mereka untuk membersihkannya secara rutin agar tidak mengalami kerusakan lebih lanjut. Sayur-sayuran yang menjadi salah satu sumber makanan utama pun tidak dapat dikonsumsi akibat kontaminasi abu vulkanik. Selain itu, para peternak di wilayah tersebut mengalami kesulitan menyediakan makanan yang layak untuk ternak mereka. Akibatnya, kesehatan ternak mulai menurun.

Sebagian besar warga mulai mengeluhkan gangguan kesehatan, terutama batuk dan pilek yang disebabkan oleh partikel abu vulkanik yang terhirup.

Salah satu warga Desa Boru, Yohannes (47), menceritakan betapa sulitnya hidup di tengah situasi ini. “Setiap hari kami harus berjuang membersihkan rumah dari abu. Kami juga kesulitan mendapatkan sayuran yang bisa dimakan, dan juga untuk makan terna. Kami sangat membutuhkan bantuan,” katanya dengan wajah cemas.

Ironisnya, hingga saat ini belum ada tanggapan ataupun tindakan nyata dari pihak pemerintah untuk menangani dampak buruk dari hujan abu ini. Warga berharap ada tindakan cepat untuk mengatasi masalah ini.

Menurut pengamatan dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dilakukan pada Selasa, 18 Juni 2024, Gunung Lewotobi Laki-Laki menunjukkan aktivitas yang mengkhawatirkan. Berikut adalah hasil pengamatan tersebut:

Pengamatan Visual:

Gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang dan tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya.

Pengamatan Kegempaan:

1 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10.3 mm, lama gempa 216 detik.

1 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2.9 mm, lama gempa 17 detik.

1 kali gempa low frequency dengan amplitudo 7.4 mm, lama gempa 14 detik.

8 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 2.9-5.9 mm, lama gempa 7-10 detik.

1 kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 5.1 mm, S-P 2.1 detik, lama gempa 11 detik.

Rekomendasi Badan Geologi:

Masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 KM dari pusat erupsi dan sektoral hingga 5 KM.

Warga diimbau tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah daerah, dan tidak mempercayai isu-isu yang tidak jelas sumbernya.Warga harus waspada terhadap potensi banjir lahar hujan.Warga yang terdampak hujan abu diminta memakai masker.

Pemerintah daerah diharapkan terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.*

Hingga saat ini, meskipun rekomendasi telah diberikan, aksi nyata dari pemerintah untuk membantu warga yang terdampak hujan abu vulkanik masih sangat minim. Warga berharap pemerintah segera turun tangan untuk memberikan bantuan yang diperlukan dan memastikan keselamatan serta kesehatan mereka terjamin.

*Marten Kilibatu/Red

Berita Terkait

Close up of a shop sign mock up

Recent News

Populer